Sudah sekian lama industri pertelivisian di Indonesia berjalan. Seiring perjalanan itu pula berbagai perkembangan teknologi dan "kebiasaan" operator televisi semakin berkembang dan bervariasi.
Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam benak saya. Perkembangannya dalam membangun tingkat pendidikan masyarakatnya justru mengalami kemunduran. Alih - alih mendidik, tapi beberapa operator televisi justru memberikan tayangan yang bertujuan memanjakan penikmatnya.
Ambil contoh, SINETRON. Kehadiran sinetron di Indonesia yang semakin merebak, seolah tak bisa dibendung berawal dari hadirnya opera sabun dari negara-negara latin (Maria Mercedes -red). Gayung bersambut, penikmat televisi di Indonesia sangat menikmatinya. Semakin banyak yang menikmati maka semakin banyak pula sinetron yang diproduksi. Begitulah industri.
Selingan saja, bahkan penggarapan sinetron "kejar tayang" terkesan asal-asalan. Yang penting ada alur ceritanya, tanpa memandang sisi logis dalam sebuah realita meski hal tersebut memang hanya sebuah cerita. Muke gileee!!!!. Bukankah ini jauh melenceng dari prinsip mendidik. Kita ambil contoh penggarapan sinetron di salah satu televisi swasta ( Tel.Pend.Ind) yang menampilkan "RONALDOWATI" yang ditayangkan setiap sore. Benar-benar seadanya!!! bahkan masih menggunakan icon Ronaldo yang sudah kadaluwarsa. Kenapa tidak terpikir menggunakan icon yang lain???
Beda lagi dengan sinetron yang dikonsumsi oleh ibu-ibu. Rasanya tidak perlu saya sebutkan satu persatu karena semua stasiun televisi menayangkan sinetron jenis ini ( kecuali beberapa stasiun televisi yang memiliki konsep yang berbeda). Yang menjadi perhatian saya adalah ( mungkin klasik ) kenapa selalu dan selalu menampilkan tokoh jahat dan innocent. Dijawablah saya, " kalau ga gitu ga seru mas ". Dalam hati saya berpikir, ternyata ini yang dicari orang, sebuah konflik. Lalu saya berpikir, apa orang ini kekurangan konflik dalam hidupnya? kenapa harus menjadi penikmat konflik yang bahkan itu palsu.
Sepertinya pengawasan pemerintah terhadap dunia industru pertelevisian memang sulit diterapkan. Saya yakin aturannya tetap ada. Tapi yang menjadi masalah adalah karakter bangsa ini - terlalu kreatif.
Yah berdasarkan ini semua saya jadi concern tentang dunia pertelevisian kita. Saya rasa sudah banyak rekan-rekan yang memiliki pemikiran yang sama dengan saya. Dan saya yakin sudah ada LSM atau organisasi yang sudah mencoba mengangkat tema ini. Semoga sukses. Dan bagi para pembaca, semoga tulisna ini bisa membuka pikiran rekan-rekan tentang perkembangan industri televisi di negeri kita ini. Yang pasti kita tidak ingin kan penerus negeri ini rusak mentalnya karena tayangan-tayangan di televisi?
Tayangan yang tidak mendidik
Lestat, Wednesday, 10 June 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



I'm excellent Google Review , Linkbuilding , Citations , Backlinks builder , Blog commenting, Social bookmaking, Article Submission,
Directory Submission, Forum Posting, etc expert . If you need a person to complete your order very fast then I'm here to do that. I will do it for the very low budget but with great quality.
Contact Me
Skype : shamimporadaha
Number and WhatsApp : +880 1922375185
Email : shamimporadaha@gmail.com
Website : Best SEO Service
Fiverr : Fiverr Profile