AMBISI VS IKHLAS

Terkadang kita terjebak di dalam situasi dimana kita harus memilih sebuah jalan hidup. Sebuah pilihan yang dipengaruhi oleh prinsip hidup seseorang. Sampai saat ini yang masih menjadi pertanyaan saya adalah, bagaimana kita menggabungkan sebuah keikhlasan yang dituntutkan kepada kita dengan sebuah ambisi yang kita miliki.
Setiap manusia mempunyai ego. Dan setahu saya ini sangat bertolak belakang dengan yang namanya ikhlas. Sedangkan ambisi adalah produk dari sebuah ego. Ok, sekarang kita tidak akan berdebat soal besar/kecilnya ego. Hanya saja, bisakah sebuah keikhlasan ini berjalan beriringan dengan ambisi? Yang notabene ambisi ini sering menjadi konotasi. Dimana ambisi selalu menjadi kambing hitam bagi orang yang mengedepankan keikhlasan. Begitu pula sebaliknya, ambisi sangat didewakan bagi orang yang “mampu” mewujudkan segala keinginannya. Ada orang yang mengatakan bahwa ambisi ini jelek, suka mengakui yang bukan menjadi haknya, suka melanggar hak orang lain, dan sebagainya.

Ada benarnya juga jika kita renungkan dan kita ambil contoh yang paling gampang – yaitu di jalan raya - . Orang yang mengalah akan selalu kalah, tapi orang yang mau “ngeyel” pasti menang, yang seringkali dalam upaya “ngeyel” ini melanggar hak orang lain. Misalnya orang yang akan belok kanan atau kiri pada persimpangan. Ambil contoh yang belok kiri ( yang tidak terlalu ekstrim karena di Indonesia berjalan di jalur kiri ). Mestinya orang kalau mau belok, sekalipun belok kiri, selalu melihat ke kanan dulu. Apakah ada kendaraan lain yang akan melintas atau tidak. Jikalau ada, kendaraan yang berjalan lurus mestinya memiliki hak untuk berjalan dahulu. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Kendaraan yang berjalan lurus selalu mengalah. Yang berbahaya adalah ketika kendaraan yang dari arah lurus ini sedang dalam kecepatan tinggi. Bayangkan apa yang bisa terjadi.
Contoh lain jika terjadi perdebatan, entah itu di rumah, kantor, di jalan raya, bahkan di gedung DPR. Yang berani ngeyel “biasanya” menang. Hahaha.... Aneh!!!!
Ambisi boleh boleh saja asalkan jangan menjadi ambisius. Karena ambisius ini tendensinya merugikan orang lain. Oleh karena yang perlu kita cermati adalah bagaimana kita mencapai ambisi kita tanpa menjadi ambisius. Apakah salah satunya menggabungkan antara ambisi dan keikhlasan??? Atau cukup bertawakal saja??
Beginilah wejangan yang ditulis oleh Bp. M. Mahfuz dalam tulisannya yang berjudul Ambisi VS Ambisius
Semua orang mempunyai ambisi. Hal tersebut dibenarkan dalam kehidupan, karena ambisi itu adalah bentuk implementasi dari hawa nafsu yang ada dalam diri setiap manusia yang dikontrol dan diarahkan secara baik. Misalnya seorang pengamen jalanan mempunyai ambisi menjadi penyanyi kesohor, lantas untuk mencapai ambisinya itu maka dia menempuhnya dengan cara yang wajar dan kesungguhan. Usaha dan kesungguhan yang demikian, boleh-boleh saja. Misalnya yang lain, seorang pedagang kelontong mempunyai ambisi menjadi pedagang dan pengusaha besar. Boleh saja, asal cara yang ditempuh dengan jalan yang wajar dan penuh kesungguhan.

Tetapi, begitu kata ambisi ditambah dengan kata “us” menjadi ambisius, maka akan menjadi hal yang sangat berbeda dan dapat menimbulkan berbagai masalah. Di sini ambisius bukan lagi hawa nafsu yang diimplementasikan secara terarah dan terkontrol. Ambisius ibarat kuda liar yang sangat sulit dikendalikan. Maka, cara yang ditempuh pun sudah tidak wajar, dan kesungguhan yang dikerahkan pun tujuannya akan sangat berbeda. Bukan maslahat yang ingin dicapai melainkan bagaimana agar hasrat hawa nafsunya yang bisa dituruti. Dapat dipastikan ambisius itu diwujudkan dengan cara-cara yang tidak fair, curang, ingin menang sendiri, menipu, melanggar aturan dan puncaknya menghalalkan segala cara.

Karena ambisius adalah hasrat hawa nafsu yang tidak terkendali, dan hawa nafsu itu ada dalam diri setiap manusia, maka sikap ambisius itu bisa berlaku pada siapa saja dan untuk mencapai tujuan apa saja. Tidak usah terlalu jauh menilai kesungguhan para caleg yang ambisius sehingga melakukan banyak pelanggaran, terkadang ambisius ingin menjadi orang yang dihormati di lingkungan, dapat membuat seseorang melakukan usaha dan kesungguhan yang tidak memberikan maslahat. Dari gambaran di atas, maka dapat kita sarikan bahwa kesungguhan itu harus dibarengi dengan niat baik dan ambisi yang baik.

Comments :

0 comments to “AMBISI VS IKHLAS”

Post a Comment

 
free counters